Perkumpulankarsa.org, Yogyakarta – Komunitas Bajo yang mendiami daerah pesisir Desa Torosiaje, kecamatan Popayato, kabupaten Pohuwato, memiliki kedekatan emosional terhadap sumber daya alam (SDA), yang melahirkan perilaku nyata mempertimbangkan ekologis. Mengatasi krisis ekologi tak semata soal teknis, tetapi perlu ditelusuri seluk-beluk spiritual manusia, pandangan hidup, kesadaran terhadap alam dan perilaku ekologis. Untuk itu, perlu kecerdasan ekologis (ecological intelligence) manusia, berupa pemahaman dan penerjemahan hubungan manusia dengan seluruh unsur beserta mahluk hidup lain.
Manusia cerdas ekologis, menempatkan diri sebagai kontrol lingkungan yang dituangkan dalam sikap dan perilaku nyata kala memperlakukan alam. Alam semesta bukan hanya sumber eksploitasi tetapi rumah hidup bersama yang terus dilindungi, dirawat, ditata, bukan dihancurkan. Suku Bajo terkenal sebagai pelaut ulung, dan berdiaspora di beberapa wilayah lain di Indonesia. Di Gorontalo, komunitas ini bermukim di pesisir Desa Torosiaje, Desa Torosiaje Jaya, Desa Bumi Bahari di Kabupaten Pohuwato, dan Desa Tanjung Bajo di Kabupaten Boalemo.
Masyarakat Bajo di Desa Torosiaje dan dua desa terdekat membentuk kelompok sadar lingkungan (KSL), yang memperoleh pendampingan dari LSM. Dampaknya, telihat pada pelestarian ekosistem pesisir, hutan mangrove sangat baik dan padat. Dalam tiga tahun terakhir persentase tutupan mangrove mencapai 80-91 persen, dengan kerapatan 5.700-6.000 pohon per hektar. Perumahan penduduk berupa rumah panggung di atas permukaan laut. Tiang rumah dan jembatan dibangun menggunakan kayu dari tanaman tahan air, gopasa, diambil di luar kawasan mangrove.
Awalnya, masyarakat menggunakan tanaman sudah tua dan mati disebut Posi-posi, yang diambil dari hutan mangrove. Kedekatan emosional masyarakat Bajo dengan sumberdaya laut memunculkan tradisi mamia kadialo. Tradisi mamia kadialo berupa pengelompokan orang ketika ikut melaut jangka waktu tertentu dan perahu yang digunakan. Ada tiga kelompok tradisi ini: palilibu, bapongka, dan sasakai. Palilibualilibualilibualilibu adalah kebiasaan melaut menggunakan perahu soppe yang digerakkan dayung. Melaut hanya dalam satu atau dua hari dan kembali untuk menjual hasil tangkapan dan sebagian dikonsumsi sendiri.
Bapongka (babangi) adalah kegiatan melaut selama beberapa minggu bahkan bulanan menggunakan perahu besar berukuran kurang lebih 4×2 meter disebut leppa atau sopek. Kegiatan ini sering mengikutsertakan keluarga, seperti istri dan anak-anak, bahkan ada yang melahirkan di atas perahu. Lalu, sasakai, yaitu kebiasaan melaut menggunakan beberapa perahu selama beberapa bulan dengan wilayah jelajah antar pulau. Selama kelompok menjalani mamia kadialo (melaut) ada pantangan bagi keluarga yang ditinggal maupun mereka yang melaut.
Pantangan itu, antara lain dilarang membuang ke laut seperti, air cucian teripang, arang kayu atau abu dapur, puntung dan abu rokok, air cabai, jahe dan air perasan jeruk, dan larangan mencuci alat memasak (wajan) di perairan laut. Ada pula pantangan memakan daging penyu, jika dilanggar bisa mendatangkan malapetaka, bencana badai, gangguan roh jahat bahkan tidak mendapatkan hasil apa-apa di laut. Penyu dipercaya banyak menolong manusia yang mengalami musibah, karena itu satwa ini tidak boleh dibunuh.
Masyarakat Bajo, khusus generasi tua, masih mempercayai gugusan karang tertentu sebagai tempat bersemayam arwah para leluhur. Orang tua melarang anggota keluarga menangkap ikan di sekitar gugusan karang, kecuali terlebih dahulu melakukan ritual tertentu dengan menyiapkan sajian bagi leluhur.” Berbagai pantangan itu mengandung nilai pelestarian ekosistem perairan laut dan pesisir. Dengan kearifan lokal ini mereka memiliki berbagai pengetahuan tentang gejala-gejala alam. Di tengah kerusakan atmosfer bumi, ada tanda-tanda alam yang masih digunakan masyarakat Bajo saat melaut.
Pengetahuan masyarakat ini memiliki nilai ekologis. Terumbu karang, antara lain sebagai penahan arus dan gelombang. Tak heran, di sekitar kawasan itu terlihat cukup tenang. Aktivitas burung elang mendekati permukaan laut karena ketika air surut lebih banyak tampak biota laut yang menjadi mangsanya. Walau perkembangan ilmu pengetahuan makin maju namun pengetahuan lokal tentang gejala alam yang dimiliki masyarakat Bajo masih menjadi acuan bagi mereka dalam menjalani kehidupan di laut. (Awib)