Bagaimana Kabar Proyek Bandara Antariksa LAPAN di Biak?

Illustrasi Bandar Antariksa (google)
“Biak bukan satu-satunya lokasi ideal dan BRIN belum investasi apa pun. Saat ini, BRIN masih melakukan evaluasi terhadap perencanaan awal.”
Perkumpulan Karsa, Biak – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berambisi Indonesia memiliki Bandar Antariksa sendiri. Biak, Papua disebut salah satu calon lokasinya. Proyek ini libatkan Elon Musk? Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional Robertus Heru Triharjanto mengatakan keuntungan Indonesia dalam membaut Bandar Antariksa adalah negara tropis kepulauan.
“Ini yang kita tawarkan kepada investor dan penyedia teknologi peluncuran satelit internasional. Kita siapkan lahan, produk hukum dan SDM (sumber daya manusia) pendukung,” terangnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (17/3/2022).
Namun pembangunan bandara antariksa yang sudah direncanakan sejak 1980 tersebut sempat ditentang oleh Pendeta Gerson S Abrauw yang datang ke balai pertemuan bersama sepupunya, Marten yang merupakan mananwir atau kepala adat marga Abrauw, pemilik sah tanah ulayat yang akan dijadikan lokasi bandar antariksa oleh LAPAN pada tahun 2018 yang lalu. Pertemuan itu melibatkan perwakilan pemerintah dengan Pemda Biak dan juga masyarakat sekitar yang sudah menyetujui rencana pembangunan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, sendiri mengatakan Biak di Papua bukan satu-satunya calon bandar antariksa yang akan dibangun di Indonesia. Selain pulau di utara Papua itu, masih ada Morotai di Maluku yang bisa dijadikan tempat peluncuran roket luar angkasa.
“Biak bukan satu-satunya lokasi ideal dan BRIN belum investasi apa pun. Saat ini, BRIN masih melakukan evaluasi terhadap perencanaan awal. Kajian serupa juga sudah dilakukan di beberapa lokasi lainnya,” kata Handoko seperti dilansir dari Antara, Minggu (27/9/2021).
Sementara Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Erna Sri Adiningsih mengatakan pihaknya sudah melakukan studi feasibilitas pada lahan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan di Biak, Papua. Erna mengatakan lokasi Biak diketahui sudah sesuai dalam hal teknis dan lingkungan secara fisik, namun untuk luasannya harus diperluas karena belum memenuhi persyaratan minimum 1.000 hektare untuk kebutuhan yang lebih besar.
Selain itu, Erna mengatakan ada aspek sosial budaya yang harus dipikirkan secara serius, “Stasiun bumi di Biak sudah ada sejak lama sebelum BRIN terbentuk. Posisinya berbeda dengan lokasi yang diisukan akan dibangun bandara roket pengorbit satelit,” ujar Erna, seperti dilansir dari Suara.com, Sabtu 23 Oktober 2021.
Progres pembangunan bandara antariksa LAPAN di Biak masih belum jelas kelanjutannya. Perkembangan terakhir dikabarkan Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengingatkan Elon Musk agar tidak mendikte Indonesia jika ingin menanamkan investasi di Indonesia. Namun tidak jelas investasi yang mana yang dimaksud LBP.
Luhut mengingatkan jika Tesla ingin masuk, maka perusahaan itu harus menuruti syarat yang diberikan oleh pemerintah Indonesia. Hal itu, lanjut Luhut, juga diterapkannya kepada investor lain, termasuk China. Sejumlah syarat yang diminta pemerintah Indonesia kepada investor asing diantaranya transfer teknologi, teknologi yang ramah lingkungan, wajib mendidik tenaga kerja lokal, serta memberikan nilai tambah.
Saya nggak mau kalau datang deal, jangan kau (Tesla) yang bikin syarat ke kami. Saya yang bikin syarat ke kamu karena itu yang saya lakukan kepada Tiongkok. Tidak pernah Tiongkok kasih syarat ke saya, saya (yang) kasih syarat. Kau mau nggak kalau kita harus B to B? Harus teknologi transfer, harus first class technology, harus yang ramah lingkungan. Dia bilang mampu, (jadi), oke deal,” katanya. (Awib)
(Dikutip dari berbagai sumber)

Leave a Comment