Menjaga Tradisi dan Adat Suku Kulawi, di Tengah Arus Globalisasi

May be an image of 11 people, people standing, people sitting and outdoors
Komunitas Masyarakat Adat Suku Kulawi menjaga kebersamaan :Foto: Antara)
Perkumpulan Karsa – Masyarakat suku To Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) masih teguh mempertahankan tradisi dan adat. Tak tergerus oleh perubahan zaman, masyarakat Kulawi masih kental menerapkan tradisi dan adat dalam kehidupan sekarang.
Memang, ada beberapa tradisi yang sudah ditinggalkan. Bahkan ada pula yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu saja. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat Kulawi menjaga peninggalan para leluhur adalah dengan adanya lembaga adat.
Lembaga adat suku Kulawi dipimpin oleh seseorang yang disebut To Tua Ngata. Peran pimpinan adat sangatlah penting dalam kehidupan sosial. Di lingkungan Kulawi, lembaga adat bahkan disejajarkan dengan pemerintah desa, terutama dalam pengambilan kebijakan.
“Lembaga adat menjadi mitra pemerintah desa. Untuk memberikan nasihat dan masukan dalam penyelenggaraan pembangunan,” kata Kepala Desa Tangkulawi periode 2014-2020, Kristison Towimba pada Selasa, 15 Maret 2022.
Salah satu bukti eksistensi Lembaga Adat dapat diidentifikasi dengan adanya bangunan Rumah Adat atau Lobo. Lobo bahkan hampir bisa ditemukan di setiap penjuru di Kulawi yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah, sidang adat hingga upacara perayaan panen.
Desa-desa yang masuk dalam teritorial Kulawi juga mempunyai wilayah adatnya masing-masing yang diturunkan secara turun temurun oleh para To Tua Ngata. Contoh nyatanya yah seperti yang berada di Kecamatan Kulawi. Di mana setiap desa saling mengakui kewilayahan adat sekalipun berbeda batas wilayah.
Namun perbedaan wilayah adat bukanlah sesuatu yang harus dipersoal, karena kuatnya ikatan historis, tradisi dan hukum adat. Apa lagi hukum adat antar desa secara umum saling berkaitan. Sekretaris Lembaga Adat Desa Tangkulowi, Herman Tompu bercerita, pada umumnya masyarakat suku Kulawi masih teguh memegang tradisi dan hukum adat.
Misalnya upacara syukuran panen masih tetap dilakukan dengan persembahan atau ucap syukur ditempat peribadatan, “Hukum Adat pun masih diberlakukan, ketika misalnya ada pelanggaran. Maka diselesaikan secara adat dan kekeluargaan. Tergantung tingkat kesalahannya, sesuai tradisi biasanya didenda dengan kerbau,dulang dan mbesa (kain),” ungkap, Herman.
Hal yang sama di jelaskan oleh Ketua Lembaga Adat Winatu, Yosep Togagu, adanya Hukum Adat ini membantu pihak kepolisian, karna tidak semua pelanggaran atau pun kesalahan harus diselesaikan di meja kepolisian yang berakhir pidana, “Hukum adat mempunyai jangkauan yang cukup luas. Hukum adat mengatur kemanusian dan gaya hidup masyarakat,” tuturnya.
Tidak hanya itu, untuk menjaga kelestarian adat secara turun temurun, di desa Toro Kecamatan Kulawi, dibentuk sekolah adat Ngata Toro. Sekolah yang didirikan pada 8 Agustus 2020 itu, digagas oleh seorang perempuan separuh baya bernama Rukmini P.Toheke.
Tujuannya tidak lain, untuk melakukan tranformasi pengetahuan adat pada generasi muda sejak dini.
Budayawan adat Kabupaten Sigi itu mengatakan, adat sering di indetikan dengan wajah orang tua, padahal para remaja terutama generasi muda adalah tulang punggung, melanjutkan tongkat estafet menjaga dan mempertahankan budaya dan tradisi, di tengah derasnya arus globalisasi.
“Untuk itu Sekolah adat ini dibentuk, agar para penerus kita, tidak kehilangan jati diri dan identitas kita sebagai masyarakat adat yang jauh sebelum kemerdekaan indonesia telah ada,” ungkapnya.
Secara Filosofi, masyarakat Suku Kulawi menerapkan tiga pilar kehidupan, Taluhi Katuwua, yang artinya, hubungan manusia dengan Tuhan sang pencipta, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan manusia. Sehingga praktek kehidupan itu menjadi pegangan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. (Awib)
Sumber: sulawesion.com

Leave a Comment